Sederet Peran dan Kontribusi Fakultas Farmasi UGM dalam Atasi Pandemi Covid-19 dan Masalah Kesehatan

- Kamis, 11 Agustus 2022 | 10:00 WIB
Prof. Dr. apt. Satibi, M.Si (Dokumen Humas  UGM.)
Prof. Dr. apt. Satibi, M.Si (Dokumen Humas UGM.)

SLEMAN, AYOYOGYA.COM-- Fakultas Farmasi UGM merupakan Fakultas Farmasi tertua dan terbesar di Indonesia. Visi Fakultas Farmasi adalah menjadi pelopor pendidikan tinggi farmasi yang unggul di tingkat nasional dan bertaraf internasional, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan serta dijiwai Pancasila. Sebagai bentuk kontribusi kepada masayarakat dan kemanusiaan, di masa pandemi Covid-19, Fakultas Farmasi UGM telah melakukan produksi hand sanitizer, VTM, pemberian bantuan alat perlindungan diri, dan bantuan multivitamin serta berperan aktif dalam membantu pelaksanaan percepatan vaksinasi di DIY.

Guru Besar Fakultas Farmasi, Prof. Dr. apt. Satibi, M.Si dalam siaran pers Kamis (11/8/2022) menyatakan pada masa pandemi, kebutuhan hand sanitizer meningkat secara pesat. Di tengah kelangkaan tersebut Fakultas Farmasi UGM berkontribusi dalam pembuatan dan pendistribusian hand sanitizer dalam memerangi pandemi Covid-19. Hand sanitizer ini dibuat oleh para peneliti dan laboran di Fakultas Farmasi UGM. Hand sanitizer yang diproduksi ini terutama ditujukan untuk penggunaan di internal Fakultas Farmasi UGM dalam dan didistribusikan ke beberapa shelter isolasi mandiri pasien COVID-19 dan fasilitas layanan kesehatan di Lingkungan DIY. Sementara itu, instansi-instansi kesehatan yang menjadi prioritas distribusi hand sanitizer buatan Farmasi UGM diantaranya RS Sardjito, RS Akademik UGM, beberapa puskesmas di wilayah DIY, sedangkan lainnya diserahkan kepada Dinas Kesehatan DIY agar dapat terdistribusi secara efektif. Selain pendistribusian hand sanitizer kepada shelter isolasi mandiri dan faslilitas layanan kesehatan masyarakat, Fakultas Farmasi UGM juga mendistribusikan hand sanitizer kepada masyarakat secara langsung.

Baca Juga: Soal Dugaan Penyebaran Ujaran Kebencian, UGM Beri Sanksi Etik pada Prof Karna Wijaya  

Dukungan Fakultas Farmasi terhadap pemulihan pandemi tidak hanya terbatas pada pencegahan penularan melalui pemberian hand sanitizer tetapi juga memberikan bantuan alat perlindungan diri berupa sarung tangan dan masker yang didistribusikan ke shelter untuk dapat digunakan bagi penderita maupun relawan. Bantuan multivitamin juga diberikan untuk dosen, staf, dan mahasiswa yang terinfeksi Covid-19 serta diberikan untuk penderita dan relawan yang berada dan bekerja di shelter isolasi mandiri Covid-19.

Dukungan Fakultas Farmasi UGM dalam meningkatkan kemampuan tracing kontak penderita Covid-19 juga dilakukan dengan menginisiasi pembuatan VTM (virus transport media). Para peneliti dan laboran, serta staf Fakultas Farmasi UGM dipelopori oleh Dr. apt. Ika Puspita Sari, M.Si. melakukan pembuatan VTM untuk mendukung pengujian swab PCR (Polymerase Chain Reaction) terhadap virus Covid-19. Pembuatan VTM ini menjawab kebutuhan akan kelangkaan dan mahalnya biaya pengadaan VTM yang sangat dibutuhkan oleh fasilitas kesehatan untuk meningkatkan kemampuan tracing penderita Covid-19. Pembuatan VTM dilakukan dengan mengacu protokol dari Centers for Disease Control and Prevention Amerika dan dijaga kualitasnya sehingga dapat didistribusikan ke luar provinsi DIY bahkan tetap terjaga kualitasnya saat didistribusikan hingga Provinsi Papua.

Vaksinasi merupakan langkah efektif untuk mengurangi transmisi atau penularan Covid-19 dengan cara meningkatkan kekebalan terhadap infeksi. Pemerintah telah mengupayakan banyak cara untuk meningkatkan cakupan vaksinasi Covid-19 mulai dari pengadaan dan pelaksanaan vaksinasi secara massal. Fakultas Farmasi UGM mendukung peningkatan cakupan vaksinasi masyarakat di DIY dengan memberikan bantuan fasilitas penyimpanan stok vaksin dan membantu dispensing vaksin di lokasi vaksinasi di DIY. Kegiatan ini sejalan dengan kompetensi dosen di Fakultas Farmasi UGM yang juga merupakan apoteker terkait kemampuan dalam pengelolaan obat dan vaksin.

Baca Juga: Viral Obat Bius Dijual Bebas di Marketplace, Ahli Farmasi UGM Sebut Chloroform Tidak untuk Manusia

Dalam mengatasi persoalan bahan baku obat yang mayoritas masih impor maka Fakultas Farmasi UGM, Direktorat Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian RI, dan PT. Kimia Farma melakukan kerja sama dalam pengembangan bahan baku obat parasetamol. Kerja sama tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mewujudkan kemandirian bahan baku obat dalam negeri. Adapun kerja sama yang dilakukan nantinya meliputi kegiatan penelitian, pembuatan, serta produksi skala pilot bahan baku obat parasetamol.

Selain bahan baku obat, permasalahan lain dalam pengembangan obat dan suplemen adalah bioavalaibilitasnya. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan perbaikan formulasi dengan nanoteknologi. Dr Ronny Martien dan Dr. Adhyatmika bersama dengan grup riset lain telah mengembangkan produk-produk nanoteknologi berbasis polimer alami maupun lemak. Beberapa dari produk tersebut telah berhasil dihilirkan, yaitu Piperantis dan OST-D maupun OSDI5000. Piperantis adalah cairan antiseptik non-alkohol yang berfungsi sebagai hand-sanitizer serta mengandung ekstrak sirih (Piper betle), nanokitosan dan benzalkonium klorida. Sedangkan OST-D maupun OSDI5000 merupakan vitamin D dengan teknologi nanopartikel.

Halaman:

Editor: Rahajeng Pramesi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

UGM Adakan Inkubasi Bisnis bagi Sociopreneur Muda 

Jumat, 9 September 2022 | 22:00 WIB

Belajar Hangeul, Huruf Korea dan Cara Membacanya

Rabu, 17 Agustus 2022 | 15:00 WIB
X