Cinta Budaya Jogja, Fakultas Kedokteran Inisasi Gerakan Desa Batik Sehat

- Sabtu, 5 November 2022 | 22:00 WIB
Ilustrasi Batik. Warga melihat-lihat baju batik. (ayosolo.id/Wijayanti Putrisejati)
Ilustrasi Batik. Warga melihat-lihat baju batik. (ayosolo.id/Wijayanti Putrisejati)

SLEMAN, AYOYOGYA.COM - Untuk meningkatkan status kesehatan pembatik dan lingkungannya, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menginisiasi Gerakan Desa Batik Sehat. Gerakan Desa Batik Sehat ini dilakukan sejak 2016 melalui Tim Desa Batik Sehat yaitu sebuah kolaborasi penelitian dari beberapa departemen dan universitas.

Tim Desa Batik Sehat FKKMK Universitas Gadjah Mada terdiri para peneliti dari Departemen Dermatologi dan Venereologi, Neurologi, Anatomi, Mata, Fisiologi, Ilmu Kedokteran Forensik dan Mediko Legal, Farmakologi dan Terapi, Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher, Departemen Anak, Departemen Gizi, dan Departemen Biokimia. Tim inipun mendapat dukungan dari RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM dan AHS UGM, F-MIPA UGM, Fakultas Farmasi UGM, ITB, UNAIR, IPB, UNY, dan ISI Yogyakarta.

Setelah melakukan beberapa penelitian dan pengabdian masyarakat di Desa Batik Sehat di Kawasan Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, bersama KBRI Rusia-Belarusia dan Kementerian Luar Negeri RI, Tim Desa Batik Sehat belum lama ini menyelenggarakan forum diseminasi dalam serangkaian kegiatan budaya dan variety show.

Baca Juga: Canden Fest di Jetis Bantul Akan Digelar, Apa Saja Agenda Serunya?

Dalam kegiatan ini, tim memproduksi video-video berdurasi pendek untuk mempromosikan kesehatan, termasuk Senam Pembatik Indonesia yang telah dilakukan oleh para kader kesehatan kerja dan para pekerja batik. Dari video edukasi yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan peserta sebagai bahan materi dalam menerapkan sentra batik yang sehat dan ramah lingkungan di wilayah masing-masing.

Melalui variety show diharapkan dapat meningkatkan antusias peserta untuk mengetahui tentang batik secara detail mengenai bagaimana menghasilkan produk yang berkualitas dan aman bagi para pekerja. Selain itu, dapat pula menjadi dasar pengambil kebijakan bagi pemangku kebijakan (stakeholders) dalam membuat aturan yang tepat guna terkait produksi batik, meningkatkan taraf hidup masyarakat pembatik, serta mengurangi angka absen akibat sakit karena posisi membatik yang tidak tepat.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Spo.OG(K), Ph.D., dalam siaran pers mengatakan aktivitas industri batik tentu memberikan banyak kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat di wilayah. Meski begitu dari industri yang telah berjalan selama ini tidak lepas dari timbulnya permasalahan kesehatan pekerja dan lingkungan sekitar.

Dari industri tersebut, pembatik dapat terpapar bahan kimia, iritatif, toksik dan karsinogenik serta bahaya fisik yang berakibat tingginya penyakit akibat kerja. Oleh karena itu, salah satu latar belakang diadakannya penelitian di bidang kesehatan adalah untuk memperhatikan kesehatan pembatik dan lingkungan.

Baca Juga: BKKBN Berikan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Ibu dan Anak Bagi Perempuan Afganistan

Halaman:

Editor: Rahajeng Pramesi

Sumber: ugm.ac.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X