Serangan Rusia ke Ukraina, Guru Besar Hukum Internasional UI Bilang Begini

- Jumat, 25 Februari 2022 | 13:00 WIB
Suasana dekat stasiun kereta api Kota Kyiv Ukraina pada Kamis (24/2/2022), di mana Rusia telah resmi mengumumkan perang terhadap Ukraina. ( Foto: AFP melalui Suara.com)
Suasana dekat stasiun kereta api Kota Kyiv Ukraina pada Kamis (24/2/2022), di mana Rusia telah resmi mengumumkan perang terhadap Ukraina. ( Foto: AFP melalui Suara.com)

JAKARTA, AYOYOGYA.COM -- Sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di Ukraina pada Kamis 24 Februari 2022 waktu setempat. Sebuah bom besar terdengar di Kiev, Ibu Kota Ukraina. Selain itu, terdapat pula dua ledakan lainnya di kota Kramatorsk di wilayah Donbas timur.

Tak hanya di satu lokasi, ledakan juga dilaporkan terjadi di kota Kharkiv, Mariupol, Mykolaiv dan Odessa. Menurut otoritas Ukraina, ledakan tersebut terjadi karena adanya serangan misil. Mereka menyebut, "invasi sudah dimulai"

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Rektor Universitas Jenderal A. Yani, Hikmahanto Juwana, mengatakan situasi di Ukraina sudah bersekalasi dengan penggunaan senjata. Hal itu terjadi karena ada dua narasi yang berbeda antara Rusia dan Ukraina.

Baca Juga: Ini Sejumlah Dampak Kesehatan Jika Senjata Nuklir Diluncurkan saat Perang Rusia-Ukraina

Dalam perspektif Rusia, kata Hikmahanto, operasi militer yang dilancarkan adalah dalam rangka kerjasama pertahanan antara Rusia dengan dua Republik yang baru saja mendapatkan pengakuan dari Rusia atas kemerdekaannya dari Ukraina, yaitu Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk.

"Presiden Putin mendalilkan operasi militer tersebut berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB yang memberi hak negara untuk membela dirinya baik secara individual maupun kolektif melalui pakta pertahanan," ujarnya ketika dihubungi Kamis 24 Februari 2022 petang kemarin.

Hikmahanto menuturkan, menurut Rusia dua republik yang diakui tersebut sedang mendapat serangan dari militer Ukraina.

"Sementara narasi dari pihak Ukraina, Rusia dengan pengakuan terhadap dua Republik yang selama ini dianggap sebagai gerakan separatis telah menganggu integritas wilayah Ukraina. Tentu Ukraina tidak ingin tinggal diam terhadap pelaku separatis dan karena melakukan tindakan terhadap para pemberontak," jelasnya.

Baca Juga: Ini Pesan Penting BLACKPINK di Konferensi Perubahan Iklim PBB 2021 COP26

Halaman:

Editor: Rahajeng Pramesi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cacar Monyet Masuk ke Kondisi Darurat Kesehatan

Senin, 25 Juli 2022 | 14:35 WIB
X