Kepala BKKBN: Awas! Autism dan Stunting Rawan Diakibatkan Jarak Lahir Terlalu Dekat

- Sabtu, 28 Mei 2022 | 14:20 WIB
Pemberian penghargaan dari Kepala BKKBN didampingi Ibu Wakil Gubernur DIY  kepada daerah yang dapat melaksanakan program KB dengan baik (Rahajeng Pramesi.)
Pemberian penghargaan dari Kepala BKKBN didampingi Ibu Wakil Gubernur DIY kepada daerah yang dapat melaksanakan program KB dengan baik (Rahajeng Pramesi.)

SLEMAN, AYOYOGYA.COM - Jarak lahir yang terlalu dekat rentan menimbulkan gejala autism dan stunting alias kekerdilan pada anak. Secara psikis seorang anak yang belum cukup umur kemudian memiliki adik akan rawan mengalami dua hal tersebut.

"Maka dari itu kelahiran perlu dijarak dengan melaksanakan Keluarga Berencana (KB)," jelas Kepala BKKBN, dr Hasto Wardoyo SPOg disela kegiatan pelayanan KB terhadap 148 akseptor ini akan dilaksanakan di RSKIA Sadewa, Babarsari, Caturtunggal, Sleman, Yogyakarta pada Sabtu (28/05/2022).

Adapun kegiatan ini juga sebagai bagian dari kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 113.

Hasto mengakui dari sekian banyak ibu hamil, 17 persen di antaranya jika ditanya merupakan kehamilan yang tidak direncana. Sehingga sosialisasi pengaturan jarak kehamilan dan KB wajib disosialisasikan secara maksimal.

Baca Juga: SK Bupati Hasto Menjadi Kepala BKKBN Bersifat Informatif

"Saya sangat paham anggaran bagi Kantor KB di daerah sangat kecil. Maka saya fokuskan anggaran  bagi KB di daerah dari BKKBN Pusat tinggi kisaran Rp2 hingga Rp3miliar untuk mengfokuskan pada pelayanan KB," bebernya.

Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Shodiqin menambahkan acara ini juga sebagai bagian dari rangkaian Harganas. Dalam acara ini terdapat 250 pendaftar Metode Operasi Wanita (MOW) atau Tubektomi. Dari sekian ini yang lolos skrining ada 166 orang untuk dilakukan Tubektomi.

"Harapannya pelaksanaan MOW sukses sehingga pencefahan stunting juga ikut sukses. Awalnya kami targetkan masing-masing kecamatan ada 250 calon Akseptor MOW.

Direktur Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) BKKBN Eka Sulistia Ediningsih menambahkan satu dari empat balita di Indonesia mengalami stunting yakni kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi, infeksi berulang, dan stimulasi lingkungan yg kurang mendukung.

Halaman:

Editor: Rahajeng Pramesi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X