Duh! Pandemi Bikin Kekerasan pada Perempuan dan Anak di Jogja Meningkat Drastis

- Jumat, 22 April 2022 | 12:25 WIB
Ilustrasi kekerasan pada perempuan (Republika)
Ilustrasi kekerasan pada perempuan (Republika)

YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM- Perempuan dan anak masih rentan menjadi korban kekerasan, terutama dalam situasi pandemi.

Hal tersebut dikarenakan struktur budaya patriarki menimbulkan ketimpangan relasi antara perempuan dan laki-laki.

Laki-laki seolah diposisikan sebagai pengambil keputusan dan pemegang kekuasaan sehingga kekuasaan tersebut berpotensi disalahgunakan jika tanpa kesadaran tanggung jawab.

Konstruksi ketimpangan gender ini dilestarikan melalui pola pengasuhan dan budaya dalam masyarakat. Di sisi lain, konstruksi gender juga mempengaruhi konsep diri, kepribadian, dan pola komunikasi yang membentuk perempuan rentan menjadi korban kekerasan.

Manajer Program Pendampingan Rifka Annisa Indiah Wahyu A dalam webinar "Catatan Tahunan Wajah Kekerasan 2021" beberapa waktu lalu menuturkan memasuki tahun kedua pandemi, pengaduan kasus kekerasan meningkat drastis hampir 3 kali lipat.

Pada tahun 2021, Rifka Annisa Women Crisis Center (Rifka Annisa WCC) mencatat 947 orang mengakses layanan pendampingan kasus, baik melalui hotline, surel, maupun akses langsung ke kantor.

Namun hanya 204 orang (21,5 persen) yang melanjutkan layanan Rifka Annisa WCC. Selebihnya pelapor dirujuk ke lembaga layanan terdekat sesuai dengan domisili.

Baca Juga: Aksi Kekerasan Jalanan Marak, Berikut Prediksi Titik Kerawanan di Sleman

Ada pula korban yang tidak melanjutkan aduan. Berdasarkan laporan kasus tersebut, kategori Kekerasan Terhadap Istri (KTI) masih menjadi kasus laporan tertinggi, pola yang konsisten dari data pendampingan kasus Rifka Annisa WCC 10 tahun terakhir. Kasus kedua tertinggi adalah kekerasan seksual, selanjutnya kekerasan dalam pacaran (KDP) dan perkosaan.

Halaman:

Editor: Rahajeng Pramesi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X