Pakar Ekonomi: Kenaikan Harga Mi Instan Dimungkinkan Bertahap

- Rabu, 10 Agustus 2022 | 12:00 WIB
Direktur Eksekutif Celios (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira saat menyampaikan paparannya. (Ayoyogya.com/Rahajeng Pramesi)
Direktur Eksekutif Celios (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira saat menyampaikan paparannya. (Ayoyogya.com/Rahajeng Pramesi)

Ia menyampaikan, penyebab utama terjadinya krisis pangan dunia jika terdapat masalah pada suplai dan harga komoditas serealia. Ia memaparkan, produksi serealia dunia tahun ini memang diperkirakan turun 0,6 persen dari tahun lalu menjadi 2.791 juta ton.

Turunnya serealia akibat penurunan produksi gandum sekitar 1 persen menjadi 770 juta ton akibat kekeringan di Uni Eropa. Namun ada peningkatan produksi di Kanada dan Australia karena iklim yang mendukung.

Selain itu, produksi beras dunia kemungkinan turun 0,4 persen menjadi 520,5 juta ton imbas turunnya produksi di Vietnam. Namun, hingga saat ini tren harga serealia dunia justru tidak mengalami lonjakan tinggi.

"Jadi saya tidak percaya krisis pangan dunia akan terjadi di 2022 dan 2023 karena komponen terbesar komoditas utama yang mempengaruhi krisis pangan adalah serealia dan saat ini baik-baik saja," ujarnya.

Ia juga berkaca pada peringatan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) pada 2020 lalu yang mengatakan bakal ada krisis pangan

Saat itu, Indonesia langsung mencanangkan berbagai program besar, termasuk food estate. Namun, Andreas pun meyakini krisis tidak akan terjadi.

"Dan betul, setelah itu ada laporan pergerakan harga pangan dunia justru turun. Lalu tahun 2021 apakah ada? Ternyata tidak juga," kata dia.

 

Halaman:

Editor: Rahajeng Pramesi

Sumber: Republika

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jadwal Lengkap KRL Solo-Jogja Senin 5 Desember 2022

Senin, 5 Desember 2022 | 06:00 WIB
X